Manokwari, Beritago.com – Upaya mendorong transformasi ekonomi Papua Barat yang inklusif dan berkelanjutan terus diperkuat melalui Pekan Perekonomian Daerah (Papedanomics) Papua Barat Tahun 2026.
Kegiatan yang berpuncak pada Seminar Nasional (Semnas) Perekonomian Daerah Papua Barat tersebut menjadi ruang strategis untuk memetakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Papedanomics 2026 diselenggarakan melalui sinergi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat bersama Universitas Papua (UNIPA), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Papua Barat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, serta Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Wakil Gubernur Papua Barat, Mohammad Lakotani, dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap kolaborasi berbagai pihak yang dinilainya menjadi bukti nyata sinergi dalam melahirkan terobosan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Semangat kolaborasi ini menjadi bukti sinergi dan kontribusi kita bersama dalam menginisiasi terobosan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua Barat,” ujar Lakotani.

Mirza Adityaswara mantan deputi Gubernur BI tahun 2014-2019 yang hadir sebagai key not speaker di pameran perekonomian daerah di Papua Barat, Kamis(27/8/26).Foto beritago
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Mirza Adityaswara mantan deputi Gubernur BI tahun 2014-2019 yang hadir memberikan perspektif dalam perumusan dan penguatan kebijakan makroekonomi, khususnya dalam merespons berbagai isu pembangunan di Papua Barat.
Menurut Lakotani, kehadiran perspektif dari pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk memastikan kebijakan ekonomi semakin responsif terhadap kebutuhan serta karakteristik Papua Barat.
Lakotani menyebut kondisi perekonomian Papua Barat menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, ekonomi Papua Barat tumbuh 6,46 persen (ctc), meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 4,94 persen.
Pertumbuhan tersebut juga tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11 persen pada periode yang sama.
“Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa perekonomian Papua Barat berada pada jalur yang semakin baik dan akseleratif, yang tentunya perlu terus kita dorong dan pertahankan bersama,” katanya.
Di sisi lain, stabilitas harga juga tetap terjaga dengan tingkat inflasi Papua Barat sebesar 2,59 persen (yoy).
Meski mencatatkan pertumbuhan yang positif, Lakotani menilai Papua Barat tidak boleh berhenti pada capaian tersebut. Penguatan sektor-sektor potensial lainnya tetap diperlukan untuk memperluas sumber pertumbuhan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi daerah. Salah satu langkah strategis yang ditekankan adalah memperkuat hilirisasi komoditas unggulan Papua Barat.
Lakotani menilai sumber daya daerah harus mampu diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi, bukan sekadar dikirim dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah.
Menurutnya, peningkatan nilai tambah melalui proses pengolahan di daerah dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan masyarakat secara mandiri. Pada saat yang sama, manfaat ekonomi dari proses produksi hingga konsumsi diharapkan dapat lebih banyak dinikmati masyarakat Papua Barat.
“Dengan demikian, nilai ekonomi dari proses produksi dan konsumsi dapat lebih banyak dinikmati oleh masyarakat dan perekonomian Papua Barat,” ujarnya.
Ia memberikan apresiasi terhadap Papedanomics 2026 yang secara khusus menjadi wadah untuk membahas peluang hilirisasi sektor dan komoditas potensial di Papua Barat.
Forum tersebut diharapkan mampu mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku ekonomi dan masyarakat untuk menghasilkan gagasan serta inovasi yang dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan pembangunan daerah.
Lakotani berharap Papedanomics tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan. Lebih jauh, hasil diskusi harus mampu menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan konkret yang memperkuat perekonomian Papua Barat.
Seminar nasional yang menghadirkan Mirza Adityaswara dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat keselarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Keselarasan tersebut diharapkan dapat membuka ruang lebih besar bagi Papua Barat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional, sekaligus membangun ekonomi daerah yang sesuai dengan karakteristik dan potensi lokal.
“Kami berharap perspektif dan gagasan yang telah disampaikan dapat menjadi bahan pemikiran sekaligus pijakan dalam mendorong penguatan perekonomian Papua Barat,” kata Lakotani.
Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan Papedanomics sebagai ruang untuk memperkuat kolaborasi dan membangun optimisme bersama.
Pemerintah daerah, akademisi dan masyarakat diharapkan terus bersinergi untuk membawa Papua Barat menuju perekonomian yang stabil, tangguh, inklusif dan berkelanjutan, sekaligus melahirkan terobosan baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas inflasi daerah.
“Semangat kebersamaan dan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat yang telah terjalin baik melalui kegiatan Papedanomics ini dapat terus terjaga,” pungkasnya.[ars]









Comment