Manokwari, Beritago.com – Peringatan Hari Kekayaan Intelektual (HKI) Sedunia 2026 di Papua Barat tak sekadar seremoni. Kantor Wilayah Kementerian Hukum Papua Barat mengisinya dengan langkah konkret melalui workshop dan podcast Mobile Intellectual Property Clinic yang digelar di salah satu hotel di Manokwari, Senin (27/4/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan kapasitas, khususnya bagi pelaku olahraga dan generasi muda, untuk memahami pentingnya perlindungan kekayaan intelektual di tengah pesatnya perkembangan industri olahraga.
Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Papua Barat, Sahata Marlen Situngkir, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema global tahun ini, “IP & Sport: Kekuatan Kekayaan Intelektual dalam Dunia Olahraga”, mencerminkan realitas baru di mana olahraga telah bertransformasi menjadi industri besar yang sarat nilai ekonomi.
“Olahraga saat ini tidak lagi sekadar soal kompetisi dan prestasi di lapangan. Di baliknya, ada kreativitas, inovasi, dan potensi ekonomi yang besar, yang semuanya membutuhkan perlindungan hukum melalui sistem kekayaan intelektual,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai elemen dalam dunia olahraga—mulai dari merek klub, desain jersey, hak siar, hingga konten digital—merupakan aset intelektual bernilai tinggi. Tanpa perlindungan yang memadai, aset-aset tersebut rentan disalahgunakan dan kehilangan potensi ekonominya.
Melalui workshop ini, Kemenkum Papua Barat mendorong peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya pelaku olahraga, agar lebih sadar dan aktif melindungi karya serta inovasi mereka.
“Workshop ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara nyata. Sementara podcast menjadi media yang efektif untuk menjangkau masyarakat lebih luas, terutama generasi muda,” tambahnya.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan inovasi-inovasi baru di bidang olahraga yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan perlindungan hukum yang kuat.
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas olahraga dalam membangun ekosistem kekayaan intelektual yang berkelanjutan di Papua Barat.
Meski demikian, Sahata mengakui bahwa tantangan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya HKI masih cukup besar. Namun, ia optimistis dengan kolaborasi yang solid, budaya menghargai dan melindungi karya anak bangsa akan terus tumbuh.
“Dengan komitmen bersama, kita bisa memastikan bahwa karya dan inovasi tidak hanya lahir, tetapi juga terlindungi dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Situngkir pun berharap melalui kegiatan ini, mampu menjadi langkah nyata dalam mendorong kemajuan sektor olahraga berbasis kekayaan intelektual—sebuah langkah strategis agar karya lokal tak hanya dikenal, tetapi juga bernilai dan berdaya saing di tingkat yang lebih luas.[ars]










Comment