Manokwari, Beritago.com — Dimasa derasnya arus digital yang kerap menyeret generasi muda menjadi sekadar penonton, SMP Negeri 2 Manokwari justru memilih langkah berbeda: menjadikan siswa sebagai kreator.
Sekolah yang dikenal dengan julukan “Sekolah Juara” ini resmi meluncurkan studio podcast pertama di lingkungan sekolah, sebagai wadah edukatif untuk mengasah kreativitas, nalar kritis, dan kemampuan komunikasi siswa.
Kepala SMP Negeri 2 Manokwari, Margriet Pondajar, M.Pd menegaskan bahwa kehadiran ruang podcast ini bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian dari strategi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kami sadar, anak-anak hari ini hidup di era digital. Jadi daripada hanya menjadi pengguna media sosial, kami dorong mereka menjadi pencipta konten yang positif dan edukatif,” ujarnya belum lama ini.
Langkah ini menjadi menarik karena sekolah tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga membangun ekosistem literasi digital yang sehat. Melalui podcast, siswa diajak untuk berpikir sebelum berbicara, menyusun ide, memahami isu, hingga menyampaikan gagasan secara terstruktur—kemampuan yang menjadi kunci di masa depan.
Namun demikian, penggunaan studio podcast tetap berada dalam koridor disiplin.
Margriet menjelaskan bahwa fasilitas ini hanya dapat digunakan setelah jam pelajaran usai, dengan syarat siswa telah memiliki konsep dan tujuan yang jelas.
“Anak-anak harus datang dengan persiapan. Mereka harus tahu apa yang ingin dibahas, lalu berkoordinasi dengan guru jurnalistik. Ini penting agar mereka belajar bertanggung jawab terhadap konten yang dibuat,” jelasnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa podcast tidak sekadar alat hiburan, melainkan media pembelajaran aktif. Siswa tidak hanya merekam suara, tetapi juga dilatih melakukan riset sederhana, berdiskusi, hingga menyusun narasi sesuai kaidah jurnalistik.
Menariknya, studio ini juga menjadi panggung bagi karya siswa. Berbagai hasil kreativitas—mulai dari opini, cerita, hingga isu sosial di lingkungan sekitar—dapat dipublikasikan melalui platform podcast. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar, tetapi juga didengar.
Margriet menambahkan bahwa pengembangan kemampuan teknis juga menjadi bagian dari proses. Siswa akan dikenalkan pada penggunaan kamera, audio, hingga teknik produksi sederhana, meski dilakukan secara bertahap.
“Kami ingin mereka tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memahami proses di balik sebuah karya. Semua ini memang butuh waktu, tapi guru-guru kami siap mendampingi,” ungkapnya.
Lebih jauh, kehadiran studio podcast ini mencerminkan pergeseran paradigma pendidikan: dari sekadar transfer ilmu menjadi ruang eksplorasi potensi.
Di tengah tantangan era digital—mulai dari hoaks hingga konten negatif—langkah ini menjadi semacam “benteng kreatif” yang membekali siswa dengan kemampuan literasi media.
Di akhir pernyataannya, Margriet berharap adanya dukungan penuh dari orang tua agar program ini dapat berjalan optimal.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Peran orang tua sangat penting untuk terus mendukung anak-anak dalam berkarya, terutama di era digital seperti sekarang,” tandasnya.
Hadirnya studio podcast ini, SMP Negeri 2 Manokwari sedang mengirim pesan kuat: masa depan pendidikan tidak lagi hanya tentang buku dan papan tulis, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak berani bersuara, berpikir kritis, dan menciptakan perubahan—dimulai dari ruang kecil bernama Podcast.










Comment