Fakfak, Beritago.com – Peringatan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1 Mei 1963 kembali ditegaskan sebagai bagian penting dari sejarah bangsa. Hal ini disampaikan Komandan Korem 182/Jazira Onim, Kolonel Inf Irwan Budiana, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Staf Korem (Kasrem) 182/JO, Letkol Inf Eko Handono, di Winder Tuare, Kabupaten Fakfak, Kamis (30/4/2026).
Dalam sambutannya, Danrem menekankan bahwa 1 Mei bukanlah momentum “bergabungnya” Papua ke Indonesia, melainkan kembalinya wilayah tersebut ke dalam NKRI. Ia menegaskan bahwa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, seluruh wilayah bekas jajahan Jepang, termasuk Papua, secara sah merupakan bagian dari Indonesia.
“1 Mei 1963 adalah momen kembalinya Irian Barat ke NKRI, bukan bergabung. Ini penting dipahami agar tidak terjadi kekeliruan dalam memaknai sejarah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, wilayah jajahannya seharusnya diserahkan kepada Indonesia. Namun, Belanda menolak dan justru membentuk entitas yang disebut sebagai negara boneka pada 1 Desember.
“Perlu diluruskan, 1 Desember bukan hari kemerdekaan Papua, melainkan hari pendirian negara boneka oleh Belanda. Ini fakta sejarah yang tidak boleh diputarbalikkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Danrem 182/JO menegaskan bahwa tidak pernah terjadi aneksasi atau pencaplokan oleh Indonesia terhadap Papua. Menurutnya, proses yang terjadi adalah pengembalian wilayah yang sah berdasarkan sejarah dan hukum internasional.
“Kita tidak mengambil atau mencaplok. Yang terjadi adalah pengembalian wilayah yang sah milik Indonesia, dan hal ini didukung oleh fakta sejarah serta ketentuan hukum internasional,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kolonel Irwan juga memberikan apresiasi kepada generasi muda di Fakfak yang aktif menyuarakan pemahaman sejarah yang benar. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan 1 Mei sebagai momentum memperkuat semangat persatuan dan nasionalisme.
“Fakfak adalah tanah damai dan penuh sejarah. Mari kita rawat persatuan dan wariskan pemahaman sejarah yang benar kepada generasi penerus, agar tidak terpengaruh oleh narasi yang menyimpang,” tutupnya.[rls]










Comment