Manokwari, Beritago.com — Sukacita Natal terasa begitu hangat di perayaan Natal Partuppuan Sariah Simalungun Manokwari. Bukan sekadar acara ibadah rutin, mome ini berubah menjadi ruang pulang tanpa perjalanan, rumah kedua bagi para perantau Simalungun yang telah lama meninggalkan kampung halaman namun tetap menyimpan rindu yang tak pernah padam.
Suasana kekeluargaan begitu kental. Percakapan dalam bahasa ibu, tawa, pelukan, hingga liturgi yang sepenuhnya dibawakan dalam bahasa Simalungun menghadirkan rasa “balik kampung” di tengah Kota Manokwari. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, semuanya terlibat, dan setiap lantunan doa seakan membawa ingatan pada gereja kecil di tanah Simalungun.

Salah seorang ibu yang hadir menuturkan, ia bersama keluarga sudah bertahun-tahun tidak sempat pulang kampung karena kesibukan dan waktu libur sekolah yang terbatas. Namun melalui perayaan Natal ini, kerinduan itu seakan terbayar lunas.
“Mulai dari liturgi hingga seluruh rangkaian ibadah berbahasa Simalungun, rasanya seperti ibadah di kampung halaman. Kami benar-benar merasa pulang,” ujarnya penuh haru saat berbincang dengan wartawan, Senin (29/12/2025).
Puncak kebersamaan makin hidup saat penyanyi Batak nasional Erick Sihotang naik ke panggung. Sejak naik ke panggung, Erick langsung “menyihir” jemaat dengan suara khasnya yang kuat dan jernih. Tidak sekadar bernyanyi, ia menyampaikan emosi, cerita, serta pesan Natal yang hangat melalui setiap lagu hingga lagu daerah Simalungun yang dibawakan dengan energi tinggi, membuat seluruh jemaat ikut bernyanyi, menari, bahkan menortor bersama.

Ruangan berubah menjadi pesta sukacita, penuh tawa, nyanyian, dan kegembiraan.
Bukan sekadar hiburan, penampilan Erick memberi suntikan semangat bagi para perantau: bahwa meski jauh dari kampung halaman, kebersamaan, iman, dan identitas budaya tetap bisa dirayakan dan dijaga.
Acara yang dimulai pukul 17.00 WIT ini akhirnya ditutup pukul 21.00 WIT, namun senyum, pelukan, dan rasa hangat yang lahir dari kebersamaan itu jelas akan bertahan jauh lebih lama. Natal bukan sekadar tanggal di kalender—di Manokwari, Natal Sariah Simalungun membuktikan bahwa iman, budaya, dan rasa kekeluargaan selalu menemukan rumahnya, di mana pun kaki berpijak.[ars]






Comment